Kabar Ma'had Izzatuna

Larang Santri Rayakan Malam Tahun Baru

DZIKIR: KH. Solihin Hasibuan, M.Pd.I saat memberikan tausyiah pada kegiatan tabligh akbar di Kota Palembang

KH Solihin Hasibuan Memberikan Tausyiah

KH. Solihin Hasibuan memimpin dzikir akbar bersama ribuan jamaah

               PALEMBANG, IZZATUNA – Sudah menjadi hal lumrah bagi mayoritas warga dunia merayakan malam pergantian tahun dengan berbagai kegiatan seperti pesta, konser musik, hingga membakar kembang api dan meniup terompet. Demikian halnya di Kota Palembang. Sejumlah perayaan biasanya digelar diberbagai tempat, salah satunya kawasan pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) yang berada persis di tepian sungai musi dan jembatan Ampera.

Tentunya kegiatan-kegiatan tersebut tidak banyak manfaatnya. Bahkan banyak ulama yang melarang merayakan malam tahun baru masehi. Karena dinilai banyak mudoratnya, dan itu bukanlah budaya islam. Terkait hal tersebut, Pimpinan Ma’had Izzatuna KH. Solihin Hasibuan, M.Pd.I mengimbau masyarakat terutama anak-anak muda generasi islam Kota Palembang agar tidak menggelar perayaan malam tahun baru.

“Tidak ada manfaatnya, bahkan suara-suara terompet atau kembang api itu mengganggu,” katanya.

Sebagai pimpinan pesantren beliau juga mengingatkan seluruh santri maupun santri alumni untuk tidak terlibat dalam berbagai kegiatan pesta malam tahun baru. Para orang tua juga diminta untuk dapat mengawasi anak-anaknya.

“Saya ingatkan juga, seluruh santri yang sedang libur. Mantap-mantaplah di rumah, perbanyak ibadah dan dzikir, jangan ikut-ikutan budaya luar,” tegasnya.

Dikatakan, berdasarkan berbagai survey atau penemuan, pesta malam tahun baru mayoritas dirayakan oleh anak-anak muda usia sekolah dan kuliahan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang melakukan hal-hal negatif seperti pesta miras, narkoba hingga seks bebas.

Ust. Solhas menyarankan, bila memang hendak merayakan malam tahun baru, sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih berfaedah untuk diri yang bersangkutan maupun masyarakat sekitarnya.

“Malam tahun barunya orang islam bukan 31 Desember. Namun bila ingin merayakan, sebaiknya isi dengan perbanyak dzikir, datangi pengajian, muhasabah diri dan kegiatan positif lainnya,” ajak Ust Solhas.(*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

mahadizzatuna

TERBANYAK DIBACA

To Top